loading...
Home » , » Joshi Kosei: Prostitusi 'ABG' Gaya Jepang

Joshi Kosei: Prostitusi 'ABG' Gaya Jepang

Daun Muda Juga Menu Laris Di Jepang


Joshi Kosei: Prostitusi 'ABG' Gaya Jepang - Negara Jepang punya sejuta fantasi dalam berbagai hal, siapa sepakat? Mulai dari teknologi dan kreativitas, subur menjamur dipadukan dengan fantasi di negeri tersebut. Harajuku, Hentai sampai Robot jadi bukti bagaimana mereka punya minat tinggi akan fantasi. Termasuk dalam perkara seks. Fantasi dan seks jadi formula 'apik' untuk menarik perhatian pasar di negeri tersebut.

Selain punya Love Hotel dan District Kabukicho di Shinjuku. Ada juga layanan sensualitas yang tak kalah banyak menarik minat para lelaki pencari hiburan. Wilayah Akibahara dan 'JK' juga jadi salah satu lokasi favorit-nya. Awalnya mungkin Anda akan merasa aneh. Bagaimana remaja di sana banyak terlihat berseliweran memakai pakaian minim dan kaus kaki super panjang, layaknya sebuah fashion style. Tapi percaya kah Anda, ada ‘sesuatu’ di balik semua itu?


Sisi Kelam Dunia Remaja di Jepang
Perjalan seorang wartawan bernama Simon Ostrovsky ke Akibahara, distrik teramai Tokyo, berhasil mendokumentasikan sisi kelam yang dijalani siswi remaja Jepang. Dimana mereka dipekerjakan dengan dalih pergi bersama pria dewasa—sebelum akhirnya berakhir menjadi wanita panggilan.

Film pendek berjudul ‘School Girl For Sale’ tersebut mengungkapkan jika gadis-gadis remaja di sana tersedia untuk ‘disewa’ di berbagai layanan, seperti: meramal, memijat dan lain-lain.

Mereka dikenal dengan istilah joshi-kosei osanpo (JK) atau dikenal 'anak SMA berjalan'. Simon sempat bertemu dengan salah satu remaja berumur 16 tahun yang mengaku telah menjajakan dirinya dilatar belakangi permasalahan keluarga.

Trik Sederhana Siswi ‘Pemuas’ di Jepang
Banyak dari mereka yang hanya menggunakan rok pendek dan kaus kaki panjang. Pakaian seperti itu memang membuat mereka terlihat cute, ditambah postur mereka juga mendukung. Bahkan mereka pun tak menggunakan make up, semata-mata agar klien tertarik, karena melihat mereka tampak sebagai anak muda yang masih segar.

Simon mencatat, jarak antara Akihabara dan kepolisian hanyalah satu blok, namun bisnis ‘terbuka’ tersebut tetap berjalan dan dibiarkan terjadi. "Semua orang tahu itu ada, tapi tidak ada yang melakukan apa-apa," ujar siswi tersebut.

Sudah sejak awal tahun 1990-an budaya ini melanda sekolah-sekolah di Jepang. Sejak saat itu pula banyak pria dewasa yang mencari gadis muda untuk suatu ‘pekerjaan’. Aksinya pun terbilang umum dan bebas. Ya, semua itu untuk satu tujuan, yaitu bisnis dan uang.

0 Comment:

Post a Comment

Share on Social Media